Melejitkan hasil belajar dengan melaksanakan adab dalam menuntut ilmu

Belajar merupakan upaya sadar yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan hasil berupa perubahan sikap prilaku (afektif), pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) pada dirinya. Hasil belajar ini akan dipengaruhi oleh banyak hal, baik yang datang dari dalam diri seseorang yang belajar maupun yang datang dari luar. Keberhasilan belajar seseorang akan diukur dengan seberapa besar perubahan yang dialaminya setelah melakukan proses belajar tersebut.

Untuk meningkatkan hasil belajar, seseorang perlu memperhatikan adab dirinya ketika belajar. Berikut ini merupakan beberapa adab yang harus dimiliki ketika seseorang hendak melakukan proses belajar.

  1. Meluruskan dan memasang Niat. Niat merupakan pencetus segala tindakan yang akan dilakukan seseorang. Ketika seseorang memasang niat yang baik sebelum memulai, maka hampir bisa dipastikan sesuatu yang dikerjakannya akan sempurna. Berbeda dengan seseorang yang tidak niat dalam melakukan sesuatu, apalagi kalau ada unsur paksaan di dalamnya. Ketika seseorang belajar disertai niat yang ada di dalam hatinya, maka dia akan mudah untuk menerima apapun yang dialami selama proses belajar terjadi. Ketika niat sudah terpatri dengan baik, seseorang tidak akan terpengaruh lagi oleh proses yang dilalui apakah menyenangkan atau tidak. Bahkan tidak jarang sesuatu yang beratpun dianggap tantangan yang menyenangkan. Apalagi bagi seorang muslim belajar merupakan sebuah ibadah yang sangat besar di sisi Allah swt. Ketika niat terpasang dengan baik, maka yakinlah pahala Allah juga akan mengalir dengan deras kepada pelakunya. Jadi orang yang memasang niat yang baik karena Allah akan mendapatkan dua keuntungan dalam proses belajar yang dilakukannya yaitu keuntungan dunia dan keuntungan akhiratnya. Keuntungan dunia bisa berupa hasil belajar yang maksimal dan sempurna dan keuntungan akhirat berupa pahala yang besar dari Allah swt. Ingatlah ayat pertama yang diturunkan Allah di dalam al Qur’an menyuruh kita untuk belajar.
  2. Membulatkan fikiran atau fokus kepada pelajaran yang dilakukannya. Seseorang yang sudah membulatkan fikirannya dalam belajar, maka seluruh potensi otaknya akan dimaksimalkan dalam menampung semua ilmu yang akan diberikan. Hal ini akan berbeda dengan orang yang ketika belajar tetapi fikirannya bercabang kepada hal-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan proses belajarnya. Imam al Ghazali mengatakan di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin tentang orang yang tidak fokus dalam belajar ini dengan perumpamaan aliran air sungai yang kecil kemudian mengalir bercabang-cabang, sebagian ditiup angin dan sebagiannya lagi dihisap oleh rerumputan sehingga hanya sedikit yang sampai ke sawah ladang. Demikianlah kalau fikiran kita bercabang, maka tidak mungkin seratus persen ilmu yang sedang dipelajari diserap oleh otak kita.
  3. Menyiapkan lahir dan batin dalam belajar. Akibat dari niat yang baik dan fikiran yang fokus seseorang benar benar akan siap secara fisik dan non fisik dalam menerima semua pelajaran. Jika kita tidak siapkan diri secara paripurna, maka dapat dipastikan ilmu yang dicurahkan oleh guru, tidak akan tertampung dengan baik oleh diri kita. Ibarat Gelas yang dituangi dengan air, ketika gelas itu tegak dan terbuka, maka air itu akan masuk dengan sempurna, ketika dia miring maka sebagian air akan masuk dan sebagiannya lagi akan tumpah. Bagaimana kalau gelas tersebut tumbang dan bahkan tertelungkup? Tentunya tidak akan ada ilmu yang akan masuk ke dalamnnya. Jadi seseorang yang tidak ada niat dan fokus fikiran dalam hatinya untuk belajar mustahil untuk berhasil dalam pelajarannya.
  4. Jangan menyombongkan diri di hadapan guru. Sombong merupakan sebuah sifat yang tercela dan terlaknat oleh Allah swt. Ketika seseorang menyombongkan dirinya terhadap gurunya, maka ketika itu juga dia tidak dapat menerima apapun yang akan disampaikan oleh sang guru. Imam al Gazali juga menjelaskan tentang kesombongan ini dengan perumpamaan: seseorang yang ingin selamat dari terkaman serigala atau binatang buas, dia tidak akan memilih atau menunggu apakah ia akan diberitahu oleh anak kecil atau orang terhormat. Beliau mengibaratkan bahwa ilmu merupakan penyelamat diri seseorang dari bahaya besar kehidupan ini, karena itu tak peduli datangnya dari orang biasa, lebih rendah dari dia atau orang terhomat, yang penting asal itu ilmu, pasti akan menyelamatkan. Bahkan beliau juga menjelaskan dengan peribahasa Arab “ilmu itu enggan datang kepada orang yang angkuh atau sombong bagaikan air enggan datang ke tempat yang tinggi”.

Demikian beberapa adab yang harus dimiliki oleh seseorang dalam menuntut ilmu. Semoga dengan melaksanakannya dapat memudahkan kita dalam menuntut ilmu sehingga kita bisa berbahagia dalam kehidupan dunia dan akhirat kelak

Print Friendly, PDF & Email
Hari

Written by 

admin "Ilmu Itu Tak Ada Yang Tak Bermanfaat"

Leave a Reply

Your email address will not be published.