Konsep Kewirausahaan Islam dan Barat

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Enterpreneurship atau kewirausahaan merupakan aktivitas yang sudah lama dilakukan manusia bahkan dari sejarah terlihat sudah ada sejak abad sebelum masehi. Namun demikian istilah enterpreneur atau kewirausahaan merupakan sebuah istilah yang termasuk baru dan berkembang secara moderen sejak abad ke 20.

Pemikiran tentang kewirausahaan dimaknai secara bergantian akibat adanya perubahan yang tidak dapat diduga (seperti perdagangan internasional, permintaan, persaingan sebagai mekanisme temuan, dan peluang). Perubahan ini memberikan pemikiran konseptual baru tentang kewirausahaan.

Berkaitan dengan pengertian dan konsep kewirausahaan, Islam sebagai agama yang mengatur kehidupan manusia secara universal juga banyak membicarakannya, walaupun tidak membahas secara spesifik tentang kewirausahaan. Tentu saja demikian, karena Islam dengan kitab pegangannya al Qur’an bukan merupakan kitab ilmu pengetahuan (since) akan tetapi kitab tanda – tanda (sign) yang banyak memberikan perumpamaan, tanda – tanda dan petunjuk secara umum tentang seluruh aspek kehidupan manusia di dunia.

Sebagai sebuah agama yang sempurna yang tidak saja berbicara akhirat tetapi juga tentang kehidupan di dunia, tentu saja Islam tidak akan melewatkan hal ini. Ini dapat terlihat dari isi ajarannya dan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi yang menyampaikan risalah Nya yaitu Nabi Muhammad SAW yang diikuti oleh para sahabat dan pengikutnya.

Atas dasar pemikiran di atas penulis mencoba untuk mengkaji konsep atau pemikiran Islam tentang kegiatan kewirausahaan, agar dapat diketahui dan dilaksanakan oleh pembaca khususnya yang beragama Islam.

Rumusan Masalah

Bagaimanakah Islam memandang enterpreneuship dan apakah bedanya dengan konsep enterpreneur barat?

Teori

A. Syumuliatul Islam (Kesempurnaan Islam)

Islam adalah agama syumul (sempurna) yang merangkumi segala aspek kehidupan duniawi dan ukhrawi. Islam juga merupakan agama fitrah yang telah ditegaskan oleh Allah dalam al Qur’an:

“Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agamamu dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepadamu dan Aku telah redhakan Islam itu menjadi agama untuk kamu. Maka, barang siapa yang terpaksa karena kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang ia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah ia memakannya), karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani”. (Al-Maidah, 5: 3)

Kesempurnaan Islam bukan hanya meliputi hal-hal keduniaan melainkan juga meliputi tatacara penghidupan yang baik sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah swt. Al-Quran dan al-Sunnah merupakan sumber rujukan utama dan merupakan panduan terbaik dalam mendidik manusia dalam menjalani kehidupan yang lebih baik dan sempurna. Selain itu, Allah telah memberikan kelebihan kepada manusia yaitu setiap manusia dianugerahi akal fikiran agar digunakan sebaik mungkin untuk mencapai tujuan hidup yaitu pengabdian kepada sang Khaliq (penciptanya). Allah berfirman dalam al Qur’an surat az Zariyaat:

“Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu. Aku tidak sekali-kali menghendaki sebarang rezeki pemberian daripada mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepadaKu. Sesungguhnya Allah saja yang nsure rezeki (kepada sekalian makhlukNya dan Dialah sahaja) yang mempunyai kekuasaan yang tidak terhingga, lagi yang Maha kuat kukuh kekuasaanNya”. (Az-Dzariyaat, 51: 56-58)

Islam juga telah menganjurkan umatnya agar tidak meletakkan kehidupan duniawi semata-mata. Segala perlakuan manusia semasa di dunia ini akan dihitung dan dipertanggungjawabkan secara satu-persatu di akhirat kelak walaupun sebesar zarah sekalipun. Bagaimanapun, Islam tidak menganjurkan umatnya untuk meninggalkan kehidupan dunia demi mengejar kehidupan akhirat begitu juga sebaliknya. Allah menyukai manusia yang seimbang kedua-duanya dari segi rohani dan jasmani. Allah telah mengaruniakan sebahagian nikmat untuk kehidupan manusia di dunia ini dan nikmat terbesarnya akan diberikan ketika di akhirat kelak.

B. Dalil Dalil al Qur’an dan Hadis Tentang Kewirausahaan

Islam memang tidak memberikan penjelasan secara eksplisit terkait konsep tentang kewirausahaan (entrepreneurship) ini, namun di antara keduanya mempunyai kaitan yang cukup erat; memiliki ruh atau jiwa yang sangat dekat, meskipun bahasa teknis yang digunakan berbeda.

Dalam Islam digunakan istilah kerja keras, kemandirian (biyadihi), dan tidak cengeng. Setidaknya terdapat beberapa ayat al-Qur’an maupun Hadis yang dapat menjadi rujukan pesan tentang semangat kerja keras dan kemandirian ini, seperti;

“Amal yang paling baik adalah pekerjaan yang dilakukan dengan cucuran keringatnya sendiri, ‘amalurrajuli biyadihi”;

“Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”; “al yad al ‘ulya khairun min al yad al nsur” (dengan bahasa yang sangat simbolik ini Nabi mendorong umatnya untuk kerja keras supaya memiliki kekayaan, sehingga dapat memberikan sesuatu pada orang lain),

Aatuzzakah; “Manusia harus membayar zakat (Allah mewajibkan manusia untuk bekerja keras agar kaya dan dapat menjalankan kewajiban membayar zakat)”.

Dalam sebuah ayat Allah mengatakan, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan kamu”.

Bahkan sabda Nabi, “Sesungguhnya bekerja mencari rizki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah fardlu”

Al-Jumu’ah, 62:10: “Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

“Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan hasil kerja tangannya. Sesungguhnya  Nabi Allah Dawud a.s. makan dari hasil kerja tangannya.”(H.R. Bukhari)

“Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan bersama para nabi, orang – orang yang benar – benar tulus dan para syuhada” (HR. Bukhari)

“Allah memberikan rahmat- Nya kepada setiap orang yang bersikap baik ketika menjual, membeli dan membuat suatu pernyataan” (HR. Bukhari)

“Hendaklah kamu berdagang karena di dalamnya terdapat 90 bahagian dari pintu rizki”

Nash-nash di atas jelas memberikan isyarat agar manusia bekerja keras dan hidup mandiri. Bekerja keras merupakan esensi dari kewirausahaan. Prinsip kerja keras, menurut Wafiduddin, adalah suatu langkah nyata yang dapat menghasilkan kesuksesan (rezeki), tetapi harus melalui proses yang penuh dengan tantangan (reziko). Dengan kata lain, orang yang berani melewati resiko akan memperoleh peluang rizki yang besar.

C. Contoh Enterpreneur dari Rasulullah dan Sahabatnya

Dalam sejarahnya Nabi Muhammad, istrinya dan sebagian besar sahabatnya adalah para pedagang dan entrepreneur mancanegara yang piawai. Beliau adalah praktisi ekonomi dan sosok tauladan bagi umat. Bahkan, sebagian besar kehidupan Rasulullah SAW sebelum menjadi utusan Allah adalah sebagai seorang pengusaha (wirausahawan). Beliau memulai merintis karir pada usiah 12 tahun dan memulai usahanya sendiri setelah berumur 17 tahun.  Pekerjaan ini beliau tekuni hingga menjelang usia mendekati kerasulan (lebih kurang hingga usia 37 tahun). Dengan demikian Beliau telah berprofesi sebagai wirausahawan selama lebih kurang 25 tahun melebihi masa kerasulan yang hanya lebih kurang 23 tahun.

Oleh karena itu, sebenarnya tidaklah asing jika dikatakan bahwa mental entrepreneurship inheren dengan jiwa umat Islam itu sendiri. Bukankah Islam adalah agama kaum pedagang, disebarkan ke seluruh dunia setidaknya sampai abad ke -13 M, oleh para pedagang muslim. Dari aktivitas perdagangan yang dilakukan, Nabi dan sebagian besar sahabat telah mengubah pandangan dunia bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada darah kebangsawanannya, tidak pula pada jabatan yang tinggi, atau uang yang banyak, melainkan pada pekerjaan. Oleh karena itu, Nabi juga bersabda “Innallaha yuhibbul muhtarif” (sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan). Umar Ibnu Khattab mengatakan sebaliknya bahwa, “Aku benci salah seorang di antara kalian yang tidak mau bekerja yang menyangkut urusan dunia.

Keberadaan Islam di Indonesia juga disebarkan oleh para pedagang. Di samping menyebarkan ilmu agama, para pedagang ini juga mewariskan keahlian berdagang khususnya kepada masyarakat pesisir. Di wilayah Pantura pulau Jawa, misalnya, sebagian besar masyarakatnya memiliki basis keagamaan yang kuat, kegiatan mengaji dan berbisnis sudah menjadi satu istilah yang sangat akrab dan menyatu sehingga muncul istilah yang sangat terkenal yaitu jigang (ngaji dan dagang).

Sejarah juga mencatat sejumlah tokoh Islam Nusantara terkenal yang juga sebagai pengusaha tangguh, Abdul Ghani Aziz, Agus Dasaad, Djohan Soetan, Perpatih, Jhohan Soelaiman, Haji Samanhudi, Haji Syamsuddin, Niti Semito, dan Rahman Tamin.

Apa yang tergambar di atas, setidaknya dapat menjadi bukti nyata bahwa etos bisnis yang dimiliki oleh umat Islam sangatlah tinggi, atau dengan kata lain Islam dan berdagang ibarat dua sisi dari satu nsure mata uang. Benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi,

“Hendaklah kamu berdagang karena di dalamnya terdapat 90 bahagian pintu rizki”

D. Kewirausahaan Spirit Muslim

Salah satu Asmaul Husna Allah SWT adalah Ar Razzaq (Yang Maha Pemberi Rizki). Kata rizqi, menurut M. Dawam Rahardjo dalam ulasan Ensiklopedisnya tentang rizqi, dengan segala variasinya, disebut Al-Qur’an sebanyak 112 kali dalam 41 surat (Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan konsep-Konsep Kunci, (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm. 578.). Digabungkan dengan doktrin-doktrin Islam yang lain (amal, ma’isyah, tijarah, barakah, shadakah, sharikah, dan bahkan riba), konsep rizqi berkaitan erat dengan konsep “kerja keras” dan “tak kenal menyerah”.  Dialah Allah SWT yang menentukan rizki bagi hambaNya. Jadi rizki itu nsure atau hilang, semuanya atas kehendaknya, bukan karena yang lainnya. Maka dari itu, sebenarnya tidak ada istilah kesialan atau “bernasib sedang mujur” pada diri seseorang. Karena Dia nsure rizki kepada siapa yang dikehendaki atau mencabutnya atas kehendak-Nya pula. Namun Allah SWT tidak begitu saja memberikannya kepada hamba tanpa adanya sebab yang mendatangkannya.

Walaupun secara asasi manusia telah dijamin kehidupannya oleh Allah SWT, baik diminta atau tidak, muslim maupun kafir. Misalnya jaminan tetap hidup dikala tertimpa kelaparan, datangnya keselamatan dalam mara bahaya, kecuali takdir menentukan lain. Dalam menerima kenikmatan (rizki) ini, manusia diwajibkan bersyukur kepada-Nya, namun jika ingkar, maka azab-Nya itu sangat pedih (QS. Ibrahim, 14: 7). Islam telah memberikan jalan untuk membuka pintu-pintu rizki itu, yakni dengan memupuk sifat, nsur, dan watak yang harus dimiliki seseorang mulim untuk diwujudkannya dari gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif atau lebih dikenal “mutiara kegiatan kewirausahaan” (entrepreneurship). Semangat kerja keras ini banyak dikutip dalam pepatah pribahasa Arab yang mengatakan bahwa:

“langit tidak menurunkan emas dan perak” (inna assama’ la tumtiru dhahaban wa la fidhatan).

Demikian juga dalam pesan Rasulullah s.a.w.;

“…..Bekerjalah bagi duniamu seakan-akan kamu akan hidup abadi….”

Rasullullah s.a.w. di tengah kesempatan lain telah menjelaskan dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani, yakni:

“Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan kalian berusaha, maka hendaklah kalian berusaha.” (HR.Thabrani)

Kewirausahaan dalam ajaran Islam adalah suatu kemampuan (ability) dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat, dan proses dalam menghadapi tantangan hidup (Djatmiko Danuhadimejo, Wiraswasta dan Pembangunan, (Bandung: Alfabeta, 1989) hlm. 49).

Dalam ajaran Islam, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses kegiatan kewirausahaan (entrepreneurship), antara lain:

Pertama, Selalu berusaha. Menurut Murpy dan Peck dalam Buchari Alma, guna mencapai sukses dalam karir seseorang, harus dimulai dengan kerja keras, setelah itu diikuti dengan mencapai tujuan dengan orang lain, penampilan yang baik, keyakinan diri, membuat keputusan, pendidikan, dorongan ambisi, dan pintar berkomunikasi (Buchari Alma, Kewirausahaan, (Bandung: Alfabeta, 2006), hlm. 91). Jadi, sekecil apapun usaha harus tetap dilakukan, karena tidak nsurey buah tanpa ada pohon yang ditanam. Dalam hal ini yang terpenting bukanlah adanya pekerjaan tetap, tetapi tetap bekerja dan berusaha. Kita nsu merenungkan firman Allah SWT ini:

“Dia-lah Allah SWT yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjuru dan makanlah sebagian dari rizkiNya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (QS. Al Mulk, 67: 15).

Dengan aktivitas usaha tersebut, ada beberapa nilai hakiki penting dari kewirausahaan, yaitu :

  1. Percaya diri (self confidence); Kepercayaan diri adalah sikap dalam keyakinan seseorang dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugasnya. Kepercayaan diri berpengaruh pada gagasan, karsa, inisiatif, kreativitas, keberanian, ketekunan, semangat kerja keras, kegairahan kerja.
  2. Berorientasi pada tugas dan proses (process oriented). Berinisiatif adalah keinginan untuk selalu mencari dan memulai dengan tekanan yang kuat. Dalam kewirausahaan, peluang hanya diperoleh apabila ada inisiatif.
  3. Keberanian mengambil resiko yang tergantung pada daya tarik. Setiap nsureyve; kesediaan untuk rugi; kemungkinan nsurey untuk sukses atau gagal; kemampuan untuk mengambil resiko ditentukan oleh: keyakinan diri, kesediaan untuk menggunakan kemampuan, dan kemampuan untuk menilai resiko.
  4. Kepemimpinan (leadership). Kepemimpinan kewirausahaan memiliki sifat-sifat (kepeloporan, keteladanan, tampil berbeda, lebih menonjol, mampu berfikir divergen dan konvergen serta berorientasi ke masa depan, selalu mencari peluang, tidak cepat puas dengan keberhasilan dan berpandangan jauh ke depan).
  5. Keorisinilan kreativitas dan keinovasian; kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir yang baru dan berbeda, keinovasian adalah kemampuan untuk bertindak yang baru dan berbeda. Tujuh langkah berpikir kreatif adalah :

Tujuh langkah berpikir kreatif adalah :

  1. Persiapan (preparation). Persiapan menyangkut kesiapan kita untuk berpikir kreatif. Persiapan berpikir kreatif dilakukan dalam bentuk pendidikan formal, pengalaman, magang, dan pengalaman belajar lainnya.
  2. Penyelidikan (investigation). Dalam penyelidikan diperlukan individu yang dapat mengembangkan suatu pemahaman tentang masalah atau keputusan.
  3. Transformasi (transformation). Ada beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan untuk mentransformasi informasi ke dalam ide-ide, yaitu: evaluasi bagian-bagian situasi beberapa saat; susun kembali unsur-unsur situasi itu; sebelum melihat satu pendekatan khusus terhadap situasi tertentu, ingat bahwa dengan beberapa pendekatan mungkin keberhasilan akan dicapai; lawan godaan yang membuat penilaian kita tergesagesa dalam memecahkan persoalan atau peluang.
  4. Penetasan (incubation). Untuk mempertinggi fase inkubasi dalam proses berpikir kreatif dapat dilakukan dengan cara: menjauhkan diri dari situasi; sediakan waktu untuk mengkhayal; rileks dan bermain secara teratur; berkhayal tentang masalah atau peluang.
  5. Penerangan (illumination). Illuminasi akan muncul pada tahapan inkubasi, yaitu ketika ada pemecahan spontan yang menyebabkan adanya titik terang yang terus-menerus.
  6. Pengujian (verification). Menyangkut ketepatan ide-ide seakurat dan semanfaat mungkin.
  7. Implementasi (implementation). Mentransformasikan ide-ide ke dalam praktek bisnis.

Kedua, Bertakwa. Hal ini berarti takut kepada Allah SWT, mengamalkan perintah-Nya serta menjauhi apa-apa yang dilarang-Nya sebagai upaya mendekatkan diri dengan Allah SWT. Sehingga rizki yang kita terima menjadi berkah dan bukan musibah. Sesungguhnya banyak orang yang memiliki harta, jabatan, dan kekuasaan, yang mereka anggap sebagai rizki, akan tetapi hidupnya justru dikuasai oleh ketiganya itu dan jauh dari rasa bahagia sampai akhir hayatnya. Maka dari itu, rizki tidak selalu identik dengan ketiganya. Tetapi sejauhmana segala yang diperolehnya itu mampu menjadikan kebahagiaan dunia akhirat. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

“…..dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki yang datangnya tanpa disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” (QS. Ath Talaq, 65: 2-4).

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan berkah kepada mereka dari langit dan bumi; tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS.Al A’raf,7: 96).

Pengamalan konsep ketakwaan di atas memiliki 8 (delapan) macam karakteristik dalam kaitannya dengan kegiatan kewirausahaan, antara lain:

  1. Desire for responsibility ; memiliki rasa tanggungjawab atas usaha-usaha yang dilakukannya
  2. Preference for moderate risk ; lebih memilih resiko yang moderat, selalu menghindari resiko
  3. Confidence in their ability to nsure; percaya akan kemampuan dirinya untuk berhasil
  4. Desire for immediate feedback; selalu menghendaki umpan balik segera.
  5. High level of energy; memiliki semangat dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan
  6. Future orientation; berorientasi ke masa depan, perspektif dan berwawasan jauh ke depan
  7. Skill at organizing; memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah
  8. Value of achievement over wisdom; selalu menilai prestasi dengan sesuatu yang membawa kearifan.

Ketiga, Banyak beristighfar (meminta ampunan kepada Allah SWT). Dengan beristighfar berarti menyadari dosa dan kesalahan ataupun kelalaian yang diperbuatnya. Rajin beristighfar akan melunakkan kerasnya hati dan membersihkan jiwa, sehingga akan menampilkan sikap berhati-hati dan penjagaan diri dari segala sifat-sifat kotor. Maka kemudian akan hadir dalam diri manusia segala sifat baiknya; jujur, amanah, santun, dan sebagainya. Rahasia apa saja dibalik istighfar? Wallahu a’lam, namun dampaknya sungguh luar biasa, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan manusia dan dengan harta serta meraih kebahagiaan. Allah SWT  berfirman:

“Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (QS. Nuh, 71: 10-12).

Rasulullah SAW juga menyatakan dalam sebuah hadits,:

“Barang siapa yang membiasakan istighfar, maka Allah akan menjadikan padanya setiap kegundahan menjadi kegembiraan, dan setiap kesempitan akan diberikan jalan keluar, serta diberikan rizki yang datangnya tanpa disangka-sangka” (HR. Abu Dawud, An Nasai, Ibnu Majah, Baihaqi dan Hakim).

Keempat, Bertawakal. Berikhtiar sepenuh kemampuan kemudian menyerahkan hasil usahanya kepada Allah SWT, diiringi dengan doa, harapan, dan ketergantungan penuh kepada-Nya. Sebab hanya atas kehendak Nya-lah segala sesuatu dapat terjadi. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyatakan:

“Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath Thalaq, 65: 3).

Demikian juga Rasulullah SAW menegaskan:

“Jika engkau semua bertawakkal (berserah diri) kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan unsur rizki kepadamu sebagaimana burung yang pada pagi-pagi keluar dengan perut kosong dan sore harinya kembali dengan perut kenyang” (HR. Ahmad dan Tarmidzi).

Kelima, Berdo’a. Doa akan menumbuhkan harapan. Hanya orang yang putus asa sajalah yang tidak mau berdoa. Padahal doa, harapan ataupun cita-cita akan mendorong seseorang menghasilkan sesuatu. Doa adalah ruhnya ibadah. Berarti dengan rajin berdoa, maka hidup ini akan terbingkai dengan ibadah. Allah SWT berfirman:

“Berdoalah kepada-Ku (Allah), niscaya Aku akan mengabulkannya” (QS. Al Mukmin, 40: 60).

Karena rizki adalah urusan Allah SWT, maka selayaknya kita berdoa, bermunajat kepada Nya agar kiranya Dia berkenan melapangkan rizki kepada kita. Rasulullah Saw juga sudah menegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tarmidzi dan Hakim:

“Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seseorang diharamkan rizki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya”.

Hadits ini diperkuat oleh firman Allah SWT:

“Allah melapangkan rizki kepada siapa siapa saja yang dikehendaki Nya di antara para hamba Nya. Dan Dia (pula) yang menyempatkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al Ankabut: 62).

Keenam, Bermurah hati dan gemar berinfak. Apa saja yang kita infakkan akan diganti oleh Nya, bahkan dengan penggantian yang lebih, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak ada sejarah yang membuktikan bahwa infak akan membawa kebangkrutan dan kesengsaraan. Sebaliknya sifat bakhil/kikir akan menghantarkan kepada kerugian. Firman Allah SWT adalah secara jelas mengisyaratkannya:

“Dan apa saja yang engkau nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dia-lah sebaik-baik pemberi rizki” (QS. Saba’ : 39).

Rasulullah SAW juga menandaskan:

“Tiada suatu hari di mana seorang hamba hidup di dalamnya (kekuasaannya) kecuali turun kepadanya dua malaikat. Maka berdoalah salah satu malaikat: “Ya Allah, berikanlah kecukupan nafkah sebagai pengganti terhadap apa yang ia infakan”. Sementara malaikat yang lain berdoa: “Ya Allah, berikanlah kepadanya penjagaan-Mu dari segala kerusakan” (HR. Bukhari-Muslim).

Ketujuh, Bertahmid. Ungkapan syukur nikmat yang paling mudah adalah dengan membaca hamdalah (alhamdulillahirabbil’alamin), namun akan menjadi berat tatkala mengingkarinya. Orang yang gemar bersyukur akan membuatnya lapang dada. Sebaliknya orang yang mengingkari nikmat (kufur nikmat), maka akan gemar menggerutu dan biasa berkeluh kesah. Dari sinilah tampaknya pintu rizki itu menjadi tertutup, karena sudah terbiasa menutup dirinya sendiri dengan keluh kesah yang tidak berkesudahan itu. Hendaknya ucapan hamdalah ini menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Cobalah kita renungkan, tatkala kita bertahmid dengan memahami segala keluasan maknanya, beban yang menghimpit kita akan terasa ringan, sesaknya dada akan terasa lapang, dan kita terjaga dari rasa takabur (sombong, congkak, angkuh) yang menjadi pangkal kebinasaan.

E. Etika Kewirausahaan Islam

Etika keusahawanan menurut perspektif al-Quran meliputi prinsip-prinsip yang berlandaskkan syariat yang mana boleh dijadikan panduan bagi setiap wirausahawan Muslim dalam menjalankan aktivitas keusahawanannya. Etika-etika tersebut:

  1. Kebebasan
  2. Kerelaan
  3. Keadilan : Menunaikan Janji,  Menimbang dan Mengukur dengan Jitu
  4. Perlindungan :  Mencatat Perjanjian, Saksi, Prinsip Tanggungjawab Individu
  5. Kesopanan

F. Bidang Enterpreneur Islam

Bidang keusahawanan yang telah dijelaskan al-Quran merangkumi bidang pertanian, penternakan, pertambangan, perikanan dan perusahaan.

Pertanian

Bidang pertanian adalah bidang mata pencarian yang tertua di kalangan masyarakat manusia. Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa Nabi Adam adalah seorang petani, begitu juga anak-anaknya (Akmal Hj. Mhd. Zain, 2006: 69) Pertanian merupakan ilmu yang berguna dalam kehidupan manusia karena dengan pengetahuan itulah manusia dapat mengambil manfaat daripada pelbagai jenis tumbuhan (H Hamzah Ya’qub, 1979: 31). Terdapat kira-kira 200 ayat alQuran yang menyebutkan tentang pertanian.  Pertanian mempunyai kepentingan yang unggul di mana, tanpa pertanian tiada apa-apa yang wujud untuk dimakan (Muhammad Zakariyya al Kandahlawi, 1994: 91). Segala apa yang telah diciptakan di langit dan di bumi adalah semata-mata untuk manusia.  Kesadaran untuk memperkuat nsure pertanian ini akan menjadi lebih meningkat dengan adanya kesadaran dan kefahaman bahawa Allah melarang umatnya daripada melakukan pemubaziran terhadap sumber alam seperti tanah, binatang, tumbuhan dan air (Abdullah Fahim bin Hj. Abd. Rahman et al., 1993: 14).

Penternakan

Penternakan merupakan istilah yang berasal daripada ternak yang berarti binatang yang dipelihara untuk dibiakkan dengan tujuan perdagangan. Oleh karena itu, penternakan adalah usaha pemeliharaan dan pembiakan binatang (Yahaya Jusoh et al., 2005: 60).

Binatang ternak adalah anugerah Allah kepada manusia. Hewan-hewan itu sendiri adalah merupakan bukti kekuasaan Allah yang dapat dijadikan pengajaran bagi kaum yang berfikir terutamanya apabila diperhatikan adanya pelbagai jenis keajaiban dalam ciptaanNya (H. Hamzah Ya’qub, 1979: 41).  Binatang ternak mempunyai banyak faedah dan faedah-faedah kepada manusia, bukan sahaja untuk keperluan hidup akan tetapi juga untuk manusia itu berfikir tentang kekuasaan Allah (Abdullah Fahim bin Hj. Abd. Rahman et al., 1993: 88).

Pertambangan

Pertambangan adalah aktivitas yang berkaitan dengan urusan penggalian untuk mengeluarkan hasil galian dari perut bumi (Yahaya Jusoh et al., 2005: 65). Firman Allah:

Maksudnya:“Kami telah menciptakan besi dengan keadaannya mengandung kekuatan yang handal serta pelbagai faedah bagi manusia”. (Al-Hadid, 57: 25)

Dalam ayat ini, perkataan anzala bukan saja bermakna menghantar sesuatu dari atas ke bawah, tetapi berarti menanam dan membesarkan sesuatu atau menggali sesuatu dari dalam bumi dan membesarkan sesuatu dengan menggunakan usaha yang kuat.

Perikanan

Perikanan meliputi usaha-usaha menangkap dan memelihara ikan yang ada di laut atau di darat dan ia merupakan sumber makanan utama kepada manusia (Abdullah Fahim bin Hj. Abd. Rahman et al., 1993: 135).  Sumber perikanan adalah dari alam yang telah diciptakan oleh Allah. Ikan merupakan sumber protein yang bermutu tinggi untuk keperluan manusia.

Perusahaan

Menurut Abu Bakar bin Mas’ud mengatakan bahwa perusahaan pada zaman sekarang disebut sebagai nsurey. Pertumbuhan dan pembangunan nsurey memainkan peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi kekayaan ekonomi sebuah nsure. Pada mulanya, segala jenis perusahaan tidak dikenali secara luas. Namun, nsurey ini mulai berkembang setelah Islam nsure ke nsure Arab (H. Zainal Abidin, 1979:43). Terdapat banyak ayat al-Quran yang menyeru manusia untuk bekerja dan beusaha.  Terdapat berbagai jenis perusahaan yang boleh dijalankan di muka bumi ini. Beberapa diantaranya adalah :

  1. Perusahaan Besi
  2. Perusahaan bangunan
  3. Perusahaan Perhiasan

Walaupun al Quran hanya menyinggung beberapa bidang enterpreneurship sudah dijelaskan di atas, tidak tertutup kemungkinan atau tidak ada larangan untuk bidang – bidang enterpreneurship lainnya asalkan bidang tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam

G. Bidang Enterpreneur yang dilarang

Bidang ini merupakan semua jenis transaksi yang melibatkan nsure-unsur riba, ihtikar (sorok barang), gharar (penipuan) dan perjudian.

Pembahasan

Pada bab ini akan dibahas beberpa perbedaan, keunggulan antara enterpreneur Islam dan enterpreneur barat atau modern

Tujuan enterpreneur

Kalau dilihat dari sisi tujuan dalam melakukan enterpreneur antara Islam dan barat maka kita akan dapat membedakan sebagai berikut :  Landasan dari enterpreneur Islam adalah Keyakinan atau ibadah kepada Allah sang pencipta sedangkan enterpreneur barat adalah mencari keuntungan.

Bidang enterpreneur

Jika dilihat dari bidang enterpreneur, memang al Qur’an hanya menjelaskan beberapa bidang yang sudah dilakukan namun demikian tidak ada larangan untuk hal hal lain asalkan bidang tersebut tidak melanggar apa yang disyariatkan oleh Agama Islam. Jika kita lihat enterpreneur modern, hampir semua bidang dapat dienterpreneurkan dan tidak terlalu melihat apakah bidang tersebut melanggar aturan agama atau bukan

Etika enterpreneur

Dalam hal etika, juga ada perbedaan antara enterpreneur Islam dan Barat sebagai contoh :

  1. Di dalam Islam menganut etika kebebasan dimana

Kesimpulan

Jadi kewirausahaan dalam Islam merupakan suatu hal yang sangat dianjurkan dan Islam meberikan rambu – rambunya agar pelaksanaanya maslahat untuk kehidupan di dunia maupu untuk kehidupan manusia di akhirat kelak.

Islam menganggap bahwa wirausaha merupakan sebuah ibadah jika dilaksanakan sesuai dengan kaidah syariat. Inilah bedanya dengan kewirausahaan ala Barat yang hanya cenderung pada keuntungan dunia semata. Kesuksesan wirausaha dalam pandangan Islam bukan dilihat dari banyaknya keuntungan atau harta yang didapatkan, akan tetapi bagaimana usaha yang dilakukan itu benar-benar menambah kedekatan dan keridhoan dari Allah swt.

Karena kewirausahaan dalam pandangan Islam dianggap ibadah, maka sudah tentu akan menimbulkan semangat yang tinggi, optimisme yang berkelanjutan bagi pelakunya karena mereka beranggapan wirausaha itu akan mendatangkan pahala dan kesuksesan adalah pemberian dari Allah swt.  Dan mereka tidak akan pesimis dan merasa kecil hati karena ketika Allah takdirkan belum sukses itu merupakan ketentuan dari Allah dan mereka akan selalu mencari ilmu untuk mengatasi sebab sebab kegagalannya yang itu pun juga mereka rasakan sebagai ibadah.

Bagi pengusaha muslim, mereka akan mencamkan dalam hati mereka bahwa Allah tidak melihat kepada hasil usahanya tetapi pada proses yang telah mereka lakukan. Jika mereka berhasil atau sukses mereka mendapatkan keuntungan dunia dan akhirat, dan jika mereka belum sukses mereka tetap mendapatkan keuntungan akhirat akibat kesabaran dan ketawakkalannya

Daftar Pustaka

Muhammad  Syafii Antonio, Muhammad SAW The Super Leader Super Manager, Teladan Sukses dalam Hidup dan Bisnis. Tazkia Multimedia & Pro LM Centre. 2007

Subur, Islam dan Mental Kewirausahaan: Studi tentang Konsep dan Pendidikannya. jurnal  Insania Vol. 12 No. 3 Sep-Des 2007 341-354

Mohd Nasir Bin Ripin & Nurul Huda Binti Mansur. Keusahawanan Menurut Perspektif Al-Quran  Fakulti Pendidikan, Universiti Teknologi Malaysia.

Sriharini Pengembangan Etos Kewirausahaan Masyarakat Islam Aplikasia, Jurnal Aplikasi llmu-ilmu Agama, Vol. VII, No. 2 Desember 2006:122-131

Suyanto Spirit Kewirausahaan “Muslim” Dalam Upaya Membangun Kemandirian Umat Welfare, Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, Vol.2, No.1, Juni  2013

Ita Nurcholifah Membangun Muslim Entrepreneurship: Dari Pendekatan Konvensional Ke Pendekatan Syariah Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam IAIN Pontianak

Andi Mardiana, Kepemimpinan Islam Dalam Membangun Spirit Enterpeurship Al-Buhuts ISSN  1907-0977 E ISSN 2442-823X Volume 11 Nomor 1 Juni 2015 Halaman 117-133.    http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/ab

Hanifiyah Yuliatul Hijriah Spiritualitas Islam dalam Kewirausahaan Universitas Airlangga, Surabaya Vol. 12, No. 1,  Mei 2016

Aprijon, M.Ed, Kewirausahaan dan Pandangan Islam, Menara, Vol. 12 No. 1 Januari – Juni 2013

Haris Faulidi Asnawi, Revitalisasi Nilai-Nilai Islam Dalam Membangun Jiwa Kewirausahaan, At – Taradhi. Jurnal Studi Ekonomi, Volume 3, Nomor 1, Juni 2012, hlm. 75- 84

Ahmad Buchori. Membangun Ekonomi Islam Melalui Semangat Kewirausahaan Sosial. Seminar Nasional Ekonomi Syariah dan Kewirausahaan 2015.

Print Friendly, PDF & Email
Hari

Written by 

admin "Ilmu Itu Tak Ada Yang Tak Bermanfaat"