Kerangka berpikir interaksional untuk menganlisis kepemimpinan

Salah satu peneliti (mungkin yang pertama) yang secara resmi mengakui pentingnya pemimpin, pengikut dan situasi dalam proses kepemimpinan adalah Fred Fieldler. Namun kita berhutang kepada pendekatan transaksional tentang kepemimpinan yang digagas oleh Hollander yang pendekatannya disebut kerangka berfikir interaksional.

Pertama: kepemimpinan sebagai sebuah fungsi dari tiga elemen yaitu pemimpin, pengikut dan situasi

Kedua: sebuah skenario kepemimpinan tertentu dapat ditelaah menggunakan masing-masing tingkat analisis secara terpisah. Walaupun cara ini berguna untuk memahami proses kepemimpinan, kita akan dapat lebih memahami proses tersebut apabila kita juga menelaah interaksi yang terjadi antara tiga elemen ini.

Kita akan dapat lebih memahami proses kepemimpinan jika kita tidak semata-mata hanya melihat kepada si pemimpin dan pengikut-pengikutnya, tetapi juga memperhatikan cara pemimpin dan para pengikutnya saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya di dalam proses kepemimpinan.

Kita dapat saja menelaah pemimpin dan situasi secara terpisah, namun kita akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang proses kepemimpinan jika kita melihat cara situasi dapat membatasi atau memfasilitasi tindakan seseorang pemimpin dan cara ia dapat mengubah aspek aspek yang ada di dalam situasi tersebut agar lebih efektif .

Aspek penting dari kerangka ini adalah bahwa kepemimpinan merupakan hasil dari kumpulan interaksi yang kompleks antara si pemimpin, para pengikut dan situasi.

  1. Pemimpin

Elemen ini terutama menelaah tentang yang dibawa oleh seorang pemimpin sebagai seorang pribadi kepada perumusan kepemimpinannya. Hal ini dapat berupa pengalaman pribadi yang unik, minat, sifat dan karakter, maupun motivasi.

Tidak semua pemimpin sama, tapi mereka cenderung memiliki kesamaan karakteristik.

Hasil riset menunjukkan pemimpin dapat dibedakan dari pengikutnya, dan pemimpin yang efektif dapat dibedakan dengan pemimpin yang tidak efektif dalam berbagai macam karakter, kemampuan kognitif, kecakapan dan nilai-nilai.

Cara lain kepribadian dapat mempengaruhi kepemimpinan adalah melalui temperamen, apakah seorang pemimpin adalah pribadi yang tenang atau sebaliknya, mudah meledak emosinya.

Pemimpin yang berwatak tenang dan tidak mudah menyerang atau menyepelekan orang lain akan lebih mudah mendapatkan informasi yang lengkap dan tepat waktu dari bawahannya daripada atasan yang bertemperamen buruk dan bereputasi kejam.

Aspek penting lain dari seorang pemimpin adalah cara ia mencapai status pemimpin. Pemimpin yang ditunjuk oleh para atasan atau petinggi kemungkinan akan memiliki kredibilitas yang rendah di mata bawahannya dan mendapatkan  loyalitas yang kurang dibandingkan pemimpin yang dipilih atau muncul dari kesepakatan para pengikutnya (perlu dikaji lebih dalam).

Seringkali para petinggi yang dipilih sendiri oleh pengikutnya lebih  mudah mempengaruhi kelompoknya melalu sasaran pencapaian karena kekuasaan dianugerahkan kepada mereka oleh para pengikutnya.

Bagaimanapun para pemimpin ini harus peka dengan keadaan para pemilihnya jika mereka ingin tetap berkuasa.

Lebih umum lagi, pengalaman aau sejarah seorang pemimpin dalam organisasi tertentu biasanya penting bagi efektifitas kepemimpinannya. Sebagai contoh: para pemimpin yang dipilih atau dipromosikan dari dalam organisasi, berdasarkan keakrabannya dengan budaya dan kebijakan di organisasi tersebut, dapat lebih siap untuk terjun langsung ke lapangan. Selain itu para pemimpin yang dipilih dari dalam organisasi lebih dikenal oleh orang-orang di dalam organisasi, daripada pemimpin yang dipilih dari luar organisasi (perlu kajian mendalam).

  1. Para pengikut

Para pengikut adalah bagian penting dalam sebuah persamaan kepemimpinan, tetapi peran mereka tidak selalu diapresiasi, setidaknya dalam penelitian empiris.

Untuk waktu yang lama pandangan umum mengenai kepemimpinan adalah para pemimpin secara aktif memimpin dan bawahan (pengikut) secara pasif dan patuh mengikuti pemimpin.

Pada abad ini pandangan masyarakat tentang pengikut dan teori kepemimpinan secara bertahap menyadari peran aktif dan penting yang dimainkan oleh para pengikut dalam proses kepemimpinan. Artinya saat ini sudah lumrah untuk mengakui peran penting yang dimainkan oleh pengikut.

Kepemimpinan adalah proses pengaruh sosial yang dirasakan bersama oleh semua anggota kelompok. Kepemimpinan tidak terbatas pada pengaruh yang diberikan oleh seseorang dengan jabatan atau peran tertentu, para pengikut juga bagian dari proses kepemimpinan.

Ekspektasi pengikut, sifat kepribadian, level kedewasaan, level kompetensi dan motivasi juga mempengaruhi proses kepemimpinan seseorang.

Motivasi asli dari para pengikut untuk mengerjakan pekerjaan mereka juga penting. Para pekerja yang memiliki tujuan dan nilai yang sama dengan pemimpinnya dan yang merasa mendapat kepuasan batin bila melakukan sebuah pekerjaan dengan baik, akan lebih mau mau untuk melakukan pekerjaan lembur untuk menyelesaikan proyek yang sudah habis tenggat waktunya, dibandingkan dengan para pekerja yang motivasinya semata – mata uang.

  1. Situasi

Situasi merupakan hal penting ketiga dari formula kepemimpinan. Bahkan apabila kita mengetahui semua yang dapat kita ketahui tentang kecendrungan pemimpin dan kecendrungan pengikut, kepemimpinan sering kali dapat dipahami dalam konteks cara pemimpin dan pengikut berinteraksi dalam situasi terntentu.

Keberhasilan kepemimpinan tidak cukup dengan hanya pemimpin yang cerdas, pengikut yang patuh tetapi juga harus ditunjang dengan situasi yang memungkinkan untuk melaksanakan kegiatan organisasi

Print Friendly, PDF & Email
Hari

Written by 

admin "Ilmu Itu Tak Ada Yang Tak Bermanfaat"

Leave a Reply

Your email address will not be published.