Aktifitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) telah merusak ekosistem air

Penambangan emas tanpa izin sepuluh tahun terakhir ini menjamur di wilayah Kabupaten Kuantan Singingi. Keberadaanya telah menimbulkan berbagai macam perubahan dalam kehidupan masyarakat, baik perubahan positif maupun negatif. Sebelumnya sudah ada penambangan emas yang sifatnya tradisional dan biasa disebut dengan istilah mandulang (mendulang emas). Namun karena pergeseran ilmu dan cara hidup kegiatan mandulang sudah lama ditinggalkan, padahal aktifitas mandulang lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan aktifitas PETI yang berkembang sekarang. Mungkin salah satu penyebabnya adalah hasil yang didapatkan dari aktifitas mendulang tidak sebanyak cara yang sekarang.

Ada banyak faktor yang menyebabkan berkembangnya aktifitas PETI di tengah – tengah masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. Masing – masing penyebab bisa saja saling berdiri sendiri. Diantara faktor pencetusnya adalah:

  1. Anjloknya harga karet dan sawit yang menyebabkan anjloknya perekonomian masyarakat. Kondisi ini diperparah lagi dengan musim yang tidak menentu yang mempengaruhi hasil panen petani. Sebagai gambaran, mayoritas masyarakat Kuantan Singingi adalah masyarakat petani sehingga menurunnya perekonomian masyarakat akan menyebabkan menurunnya perekonomian penduduk secara keseluruhan.
  2. Naiknya harga2 terutama bahan pokok yang dipicu kenaikkan harga BBM pada sepuluh tahun terakhir. Kondisi ini benar benar mencekik kehidupan masyarakat Kuantan Singingi yang profesinya sebagai petani sawit atau karet (petani padi atau kebutuhan pokok jumlahnya hanya sedikit, itupun tidak mencukupi kebutuhan setahun masyarakat penanam apalagi masa tanam di Kabupaten Kuantan Singingi hanya 1 kali dalam setahun).
  3. Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang penambangan emas. Sebenarnya penambangan emas tradisional (sebelum munculnya PETI) sudah lama hilang dari masyarakat Kuansing. Di prediksi (barangkali) penyebab hilangnya adalah karena faktor ekonomi masyarakat waktu itu sangat baik dan jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan mendulang emas.  Kondisi ini rupanya tidak bertahan lama setelah masyarakat Kuansing mengalami guncangan ekonomi akibat dua faktor yang disebutkan di atas ditambah dengan pengetahuan masyarakat tentang cara mendapatkan emas lebih baik dari cara trasdisional.
  4. Lemahnya atau tidak adanya regulasi pemerintah daerah dalam mengatur penambangan emas tanpa izin sehingga menyebabkan kegiatan tersebut menjamur di tengah-tengah masyarakat. Seharusnya pemerintah melakukan tindakan preventif atau pencegahan supaya tidak ada kegiatan tambang emas ilegal ini. Sebab kalau masyarakat sudah kecanduan dan bahkan menjadi PETI sebagai mata pencaharian pokok, pemberantasannya menjadi lebih susah.
  1. Peralatan peralatan untuk melakukan tambang emas ilegal mudah didapatkan di pasaran sehingga menambah semangat mereka dalam melakukan kegiatan tambang emas ilegal ini.Wabup-Inhu-minta-BLH-pantau-aktivitas-PETI

Beberapa faktor di atas dan faktor lainnya merupakan faktor pemicu berkembangnya aktifitas penambangan emas tanpa izin (PETI)  di wilayah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). Dengan beroperasinya aktifitas PETI selama lebih kurang sepuluh tahun ini telah berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat Kuantan Singingi. Dampak tesebut bisa positif dan bisa pula negatif. Namun secara umum dampak negatifnya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan dampak positifnya. Berikut ini adalah beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh aktifitas penambangan emas tanpa izin yang dijumpai di masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi:

  1. Tercemarnya ekosistem air yang ada di wilayah Kuantan Singingi dan wilayah sekitarnya. Jika kita perhatikan sungai-sungai yang ada di wilayah Kabupaten Kuantan Singingi hampir semuanya sudah berwarna kuning dan coklat. Kondisi ini menyebabkan habitat air jadi terancam. Bahkan tidak jarang buaya-buaya air masuk ke perkampungan atau wilayah daratan dalam keadaan linglung (tidak normal) sehingga menjadi tontonan dan mainan warga. Begitu juga dengan makhluk-makhluk air lainnya tidak bisa lagi berkembang dan sulit ditemukan di wilayah sungai Kuantan Singingi.
  2. Hilangnya mata pencaharian sebahagian penduduk yang berprofesi sebagai pencari ikan. Akibat sungai-sungai yang tercemar, populasi ikanpun sudah sangat berkurang karena tidak bisa lagi berkembang biak, akibatnya para pencari ikan susah untuk mendapatkannya. Jangankan untuk dijual, untuk konsumsi sendiripun tidak mencukupi. Kalaupun ada masyarakat juga tidak mau lagi mengkonsumsi ikan sungai karena khawatir dampak polusi air.
  3. Terjadinya erosi atau pengikisan tanah di sekitar daerah aliran sungai. Karena aktifitas PETI berada di wilayah sungai (termasuk pinggir – pinggir sungai), maka tebing-tebing sungai banyak yang runtuh sehingga menyebabkan sungai tidak berbentuk lagi. Jadi kalau kita melihat sungai-sungai yang dijadikan tempat aktifitas penambangan, maka kita sudah susah membedakan mana yang aliran sungai aslinya (karena bentuknya benar – benar sudah berubah)
  4. Masyarakat di sekitar aliran sungai tidak lagi dapat memanfaatkan air untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Akibat sungai yang tercemar masyarakat sekitar aliran sungai tidak dapat lagi memanfaatkan sungai untuk keperluan hidupnya seperti mandi, mencuci, memasak atau minum.
  5. Terbentuknya lobang-lobang di dasar sungai yang menyebabkan kematian manusia. Biasanya kegiatan penambangan PETI menyebabkan lobang-lobang yang berliku-liku di dasar sungai (terutama sungai kuantan) sehingga telah menyebabkan kematian warga yang mandi di sekitar daerah berlobang tersebut.

Dampak positifnya adalah :

  1. Dapat mengatasi pengangguran (relatif). Tidak bisa dipungkiri bahwa aktifitas PETI memang dapat mengatasi pengangguran, tapi tidak semua yang menganggur bisa melakukan aktifitas ini (persentasinya masih sangat kecil). Rata – rata yang melakukan aktifitas penambangan ini adalah masyarakat yang awalnya menggantungkan hidup dari karet atau sawit.
  2. Relatif dapat mengatasi ekonomi keluarga. Dengan melakukan penambangan emas sebagian masyarakat Kuansing dapat meningkatkan ekonomi keluarganya, namun kalau kita perhatikan tidak semua penambang emas yang jaya kehidupan keluarganya. Sepertinya walaupun dapat uang banyak kalau cara hidupnya tidak pandai tetap saja kehidupan keluarganya tidak terlalu berubah (walaupun sebahagian ada yang menjadi kaya mendadak). Mungkin inilah yang dikatakan faktor keberuntungan. Wallahu a’lam bisshowab…

Pandangan penulis

Kalau merujuk kepada Al Qur’an bahwa kita mengetahui bahwa tugas kita di dunia ini hanya dua. Tugas pertama adalah untuk melakukan ibadah (penghambaan) kepada Allah swt (‘tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepadaku” Q.S. Az Zariyah 56). Kedua adalah sebagai khalifah, penguasa, pengelola, pemakmur bumi ini (“dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya aku ingin menjadikan di muka bumi ini khalifah” Q.S. Al Baqarah 30). Dalam menjalankan fungsinya sebagai khalifah dan penghambaan kepada Allah manusia dituntut untuk memiliki iman dan ilmu agar setiap tindak tanduknya di muka bumi ini benar-benar berkualitas di sisi Allah swt. (“Yang menciptakan kehidupan dan kematian, untuk menguji siapa diantara kamu yang paling baik (berkualitas) amalan atau perbuatannya” Q.S. Al Mulk 2). Jadi Allah swt sudah menegaskan dengan jelas kepada kita bahwa kita dihidupkan dan dimatikan untuk diuji apakah kita berkualitas atau tidak amalannya, dan Allah tidak nyatakan siapa yang paling banyak amalannya tapi yang paling baik amal perbuatannya.

Kebanyakkan manusia berfikir bahwa ibadah hanya terbatas kepada sholat, puasa, zakat dan ibadah mahdah lainnya, padahal apapun aktifitas kita di dunia ini yang dipersembahkan untuk memakmurkan bumi ini  (apalagi konteksnya mencari nafkah) bernilai ibadah di sisi Allah swt.  Demikian juga sebaliknya, banyak manusia yang beranggapan bahwa dosa itu hanya ketika kita meninggalkan perintah Allah atau mengerjakan apa yang dilarangnya seperti mencuri, berzina, membunuh, padahal memberikan kerusakan kepada alam ini merupakan sebuah dosa besar di sisi Allah, swt. Kezholiman kita terhadap alam ini akan menyebabkan kesengsaraan kepada kita dan makhluk Allah lainnya. Dan Allah benar – benar akan menurunkan bencana kepada kita semuanya.

Allah tidak melarang kepada kita untuk memanfaatkan alam ini asal dikelola dengan baik untuk kepentingan kehidupan manusia tanpa mengancam kehidupan makhluk Allah lainnya. Untuk itu manusia perlu melengkapi diri dengan berbagai macam ilmu agar kegiatannya dalam memanfaatkan alam ini benar – benar tidak merusak ekosistem.

Solusi

  1. Pemerintah daerah Kabupaten Kuantan Singingi harus benar benar bertindak secara cepat dalam mengatasi masalah ini, karena ini bukan masalah kecil atau masalah sepeleh. Cepat atau lambat kerusakan dan kejadian yang lebih besar pasti akan muncul. Berikut ini mungkin beberapa hal yang mungkin dilakukan untuk mengatasi masalah ini:
  2. Menutup semua kegiatan PETI
  3. Memberikan pencerahan kepada masyarakat khususnya pelaku PETI tentang pentingnya mengelola alam dengan baik serta akibat yang diterima jika melalaikannya
  4. Melakukan rekonstruksi atau perbaikan terhadap alam (daerah PETI)
  5. Memberikan alternatif pekerjaan atau mata pencaharian kepada masyarakat yang benar – benar menggantungkan hidupnya pada aktifitas PETI
  6. Mencari solusi yang baik dan tepat secara berkesinambungan untuk mengatasi masalah ini dan jangan menganggap ini adalah masalah kecil.
  7. Bertindaklah sesegera mungkin walaupun terlambat, tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Jangan menunggu kehancuran yang lebih besar lagi.
Print Friendly, PDF & Email
Hari

Written by 

admin "Ilmu Itu Tak Ada Yang Tak Bermanfaat"

Leave a Reply

Your email address will not be published.